SEAFDEC dan negara-negara anggotanya sedang berupaya membangun suatu pengelolaan perikanan yang baik di lingkungan Asia Tenggara. Untuk mencapai pengelolaan perikanan yang baik tersebut, diperlukan data dan informasi yang lengkap dan berkualitas tentang kegiatan perikanan dan kegiatan lain yang terkait. Data dan informasi yang bermutu diharapkan dapat membantu lahirnya kebijakan pengelolaan perikanan yang baik pula. Salah satu kegiatan besar yang sedang dilakukan diberi nama “Status and Trends of Fisheries” atau disingkat sebagai STF.
STF dimaksudkan untuk mendukung peningkatan pengetahuan dan pemahaman akan status dan kecenderungan perikanan tangkap dan budidaya melalui penyediaan data dan informasi yang diperlukan. Data dan informasi tersebut antara lain adalah sumberdaya ikan dan lingkungannya, kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan (termasuk data produksi perikanan), kondisi sosial masyarakat perikanan tangkap di perairan umum, kearifan lokal yang berlaku dan kegiatan pengolahan hasil perikanan. Dengan demikian, STF bisa dijadikan kunci untuk menguatkan pembuatan kebijakan dan pengelolaan perikanan. Karena tujuan akhirnya adalah pengelolaan ikan yang bertanggung jawab, maka kegiatan STF ini selaras dengan berbagai piagam internasional, antara lain adalah UNCLOS 1982, CCRF 1995, UN Fish Stock Agreement 1995 dan Reykjavik Declaration 2001.
Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung secara nasional di tiap negara sehingga disebut National Status and Trends of Fisheries. Proyek pendahuluan (pilot project) adalah Indonesia, Filipina dan Thailand. Otoritas pelaksana STF Nasional Indonesia adalah Departemen Kelautan dan Perikanan. Aspek perikanan tangkap dihimpun oleh Direktorat Sumberdaya Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Penghimpunan data dan informasi perikanan tangkap dititikberatkan di perairan umum daratan. Pertimbangan menjadikan perairan umum daratan sebagai pilihan adalah karena himpunan data dan informasi tentang perikanan tangkap di perairan umum daratan selama ini memang tidak selengkap dan sebaik perikanan laut.
Sebagai langkah awal, SEAFDEC dan Direktorat Sumberdaya Ikan telah mengadakan lokakarya nasional (National Workshop) yang berjudul “National Workshop On The Development Of Indonesian Status And Trends Of Fisheries: Inland Water Capture Fisheries” pada tanggal 17 – 18 Desember 2008 di Hotel Bumi Wiyata, Depok. Pada kegiatan ini, pihak ASEAN dan SEAFDEC menjelaskan arah dan kebijakan regional terkait data dan informasi perikanan di lingkungan Asia Tenggara dan konsep STF National. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pembahasan dan tinjauan terhadap data dan informasi perikanan tangkap di perairan umum daratan dan membahas penyusunan STF Indonesia untuk perikanan tangkap di perairan umum daratan. Kegiatan ini dihadiri oleh utusan dari Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap; Direktorat Produksi – Ditjen Perikanan Budidaya; Pusat Data, Statistik dan Informasi Kelautan dan Perikanan (Pusdatin) – Sekjen DKP; Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut – Ditjen KP3K; Direktorat Pemasaran Dalam Negeri – Ditjen P2HP; Pusat Riset Perikanan Tangkap – BRKP; Puslit Limnologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Karena luasnya data dan informasi yang perlu dikumpulkan, pihak yang terlibat dalam pengumpulan data antara lain adalah Pusat Riset Perikanan Tangkap – BRKP dan Pusat Penelitian Limnologi – LIPI. Data dan informasi yang terkumpul dikelompokkan berdasarkan ekosistem. Data dan informasi perikanan tangkap berbasis ekosistem ini memiliki keunggulan dalam hal akurasi sebagai bahan kebijakan dan pengelolaan perikanan tangkap. Laporan hasil proyek pendahuluan STF Nasional Indonesia diharapkan dapat diselesaikan pada akhir kwartal ketiga tahun 2009.